Home / Trending / 6 Tren Liburan 2026 yang Diprediksi Bakal Populer: Dari Fan Voyage hingga Set-Jetting

6 Tren Liburan 2026 yang Diprediksi Bakal Populer: Dari Fan Voyage hingga Set-Jetting

wanita wisatawan membawa koper di pelabuhan kapal (fan voyage atau hotel hop)

Memasuki tahun 2026, dunia pariwisata global terus berkembang dengan cara yang semakin personal dan bermakna. Kini, wisatawan tidak hanya mencari destinasi populer atau tempat “instagramable”, melainkan pengalaman yang autentik, mendalam, dan sesuai dengan nilai hidup mereka.

Menurut laporan terbaru dari Expedia, ada enam tren liburan 2026 yang diprediksi akan mendominasi dunia traveling. Mulai dari liburan bertema olahraga hingga perjalanan ke lokasi film favorit, semua tren ini mencerminkan bagaimana wisata kini menjadi sarana self-discovery dan eksplorasi budaya yang lebih mindful.

Berikut enam tren liburan paling menarik yang siap mewarnai perjalananmu di tahun mendatang.

1. Fan Voyage: Liburan untuk Para Penggemar Olahraga dan Budaya

Jika kamu seorang penggemar olahraga atau budaya tertentu, konsep fan voyage akan menjadi tren yang sayang dilewatkan. Ide utama dari tren ini adalah menggabungkan wisata dengan pengalaman komunitas penggemar, sehingga traveler dapat merasakan langsung atmosfer khas dari suatu acara atau budaya.

Bayangkan menonton pertandingan sepak bola di Old Trafford (Manchester), menyaksikan pertandingan sumo di Tokyo, atau melihat kejuaraan curling di Kanada sambil menikmati suasana lokal. Bukan sekadar jalan-jalan, fan voyage menawarkan kesempatan menjadi bagian dari energi penonton dan budaya lokal yang autentik.

Tren ini muncul karena banyak traveler modern yang tidak hanya ingin “melihat” tempat baru, tapi juga “merasakan” semangat masyarakat setempat. Pengalaman emosional inilah yang membuat fan voyage menjadi salah satu tren wisata 2026 paling diminati.

stadion sepak bola penuh penonton (red seat) untuk ilustrasi tren fan voyage wisata olahraga 2026
Tren Fan Voyage: Liburan yang menggabungkan wisata dan pengalaman komunitas penggemar olahraga atau budaya.
Sumber: unsplash.com/reganography

2. Salvaged Stays: Menginap di Bangunan Bersejarah yang Diubah Menjadi Hotel Modern

Di tengah maraknya hotel bergaya futuristik, justru muncul tren baru bernama salvaged stays — menginap di bangunan tua atau bersejarah yang direstorasi menjadi penginapan modern tanpa menghilangkan nilai historisnya.

Mulai dari bekas sekolah, stasiun kereta, hingga gedung bank klasik, kini banyak yang disulap menjadi hotel berkarakter dengan desain estetik dan cerita di balik dindingnya.

Di Indonesia, konsep ini sudah mulai populer, contohnya seperti The Phoenix Hotel Yogyakarta atau Hotel Tugu Malang yang menggabungkan kenyamanan modern dengan nuansa kolonial dan sejarah lokal.

Tren ini cocok bagi traveler yang menyukai suasana klasik, arsitektur heritage, dan ingin menikmati pengalaman wisata berkelanjutan dengan menjaga nilai budaya dari bangunan lama.

Konsep ini juga sejalan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan, sebab banyak bangunan tua diselamatkan dari kehancuran dan diberi fungsi baru tanpa mengubah karakter aslinya.
Salvaged stays menjadi kombinasi sempurna antara sejarah, desain arsitektur, dan gaya hidup modern yang memikat generasi muda pencinta estetika.

bangunan hotel art deco klasik colony hotel miami ilustrasi tren salvaged stays
Tren Salvaged Stays: Memberikan pengalaman menginap di bangunan bersejarah yang telah direstorasi dengan sentuhan modern. Sumber: pexels.com/Ed Rogers

3. Hotel Hop: Gaya Liburan Berganti Hotel untuk Pengalaman Maksimal

Kamu tipe orang yang cepat bosan dengan satu tempat menginap? Maka tren hotel hop akan cocok untukmu. Konsep ini memungkinkan wisatawan berpindah dari satu hotel ke hotel lain selama satu perjalanan di destinasi yang sama.

Misalnya, dua malam pertama menginap di hotel pusat kota, lalu pindah ke resor tepi pantai atau villa di pegunungan. Tujuannya adalah untuk menikmati suasana berbeda dan mengenal destinasi lebih dalam.

Tren hotel hop kini banyak digemari oleh milenial dan Gen Z, yang lebih suka variasi pengalaman dibanding kemewahan statis. Selain itu, tren ini juga sejalan dengan munculnya paket liburan fleksibel dan layanan smart booking yang memudahkan traveler berganti akomodasi tanpa repot.

Hasil survei Expedia menunjukkan bahwa 58 persen pelancong asal Inggris tertarik mencoba hotel hop agar dapat mengeksplorasi lebih banyak sisi lokal dari sebuah destinasi.
Misalnya, mereka bisa menginap dua malam di hotel butik pusat kota, lalu berpindah ke vila pantai untuk dua malam berikutnya, sebelum menutup liburan dengan pengalaman glamping di pedesaan.

Selain menambah variasi, hotel hop juga menjadi cara baru bagi wisatawan untuk meningkatkan fleksibilitas dan kreativitas dalam perjalanan.
Bagi industri perhotelan, tren ini mendorong kolaborasi lintas brand dan membuka peluang paket “multi-hotel experience” yang lebih inovatif.

interior kamar hotel dengan jendela besar menghadap pegunungan hijau (ilustrasi tren readaways atau hotel hop)
Tren Readaways atau Hotel Hop: Menikmati variasi pengalaman menginap dengan pemandangan alam yang indah. Sumber: Unsplash.com/Ish Consul

4. Readaways: Liburan untuk Pencinta Buku dan Pecinta Ketenangan

Bagi kamu yang lebih suka liburan sunyi dan penuh refleksi, readaways adalah tren yang wajib dicoba di 2026. Terinspirasi dari fenomena media sosial #BookTok, tren ini mengajak wisatawan untuk menikmati waktu tenang sambil membaca buku di tempat indah dan inspiratif.

Lokasinya bisa berupa kabin di pegunungan, vila tepi pantai, kafe klasik di kota tua, atau glamping di alam terbuka. Di Indonesia, kamu bisa mencoba pengalaman ini di Ubud, Bandung, atau Puncak, di mana banyak penginapan menyediakan ruang baca pribadi atau perpustakaan mini.

Data dari Pinterest menunjukkan peningkatan 265 persen pencarian ide “book club retreat”, menandakan semakin banyak orang yang mencari liburan reflektif dan menenangkan.

Readaways menawarkan keseimbangan antara healing dan literasi, menjadikannya pilihan sempurna untuk mereka yang ingin rehat dari hiruk-pikuk dunia digital dan kembali menumbuhkan inspirasi lewat halaman buku.

Tren ini sangat cocok bagi generasi digital yang ingin sejenak “detoks” dari layar gadget dan kembali pada pengalaman analog yang menenangkan.

kamar hotel atau penginapan dengan jendela besar menghadap pemandangan gunung dan alam (tren readaways)
Tren Readaways: Waktu ideal untuk menikmati ketenangan dan membaca buku di tempat indah dan inspiratif.
Sumber: freepik.com/gratispik

5. Farm Charm: Liburan Bernuansa Alam dan Kehidupan Pedesaan

Dalam era serba cepat dan urban, banyak orang mulai merindukan kehidupan sederhana di alam terbuka. Dari sinilah tren farm charm muncul, yaitu konsep berlibur di tempat bernuansa agraris seperti peternakan, kebun organik, atau homestay di desa.

Wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan hijau, tapi juga bisa ikut aktivitas lokal seperti menanam sayur, memberi makan hewan, atau belajar membuat produk hasil bumi.

Di Indonesia, tren ini terlihat di destinasi seperti Dusun Bambu (Lembang), Bali Organic Village, dan Desa Wisata Batu (Malang). Farm charm menawarkan pengalaman slow living yang membantu wisatawan reconnect dengan alam dan diri sendiri.

Menurut laporan Expedia, 84 persen wisatawan global tertarik pada pengalaman pedesaan dan pertanian seperti memetik buah, memberi makan hewan, atau belajar membuat keju tradisional.
Selain menjadi sarana edukasi, farm charm juga mendukung ekonomi lokal dan memperkuat hubungan antara wisatawan dengan masyarakat desa.

Di tengah meningkatnya kesadaran lingkungan, tren ini menjadi simbol wisata berkelanjutan yang mengedepankan keseimbangan antara manusia dan alam.
Banyak wisatawan bahkan menjadikan farm stay sebagai “digital detox trip” untuk melepaskan stres dari rutinitas perkotaan.

pemandangan padang rumput hijau dan perbukitan di pedesaan (tren farm charm)
Farm Charm menawarkan pengalaman slow living di pedesaan, cocok untuk reconnect dengan alam dan diri sendiri. Sumber: pexels.com/Janez Temlin

6. Set-Jetting: Jelajahi Lokasi Film Favoritmu di Dunia Nyata

Tren terakhir yang diprediksi akan booming di 2026 adalah set-jetting, yaitu berlibur ke lokasi syuting film atau serial favorit. Fenomena ini semakin digemari berkat budaya pop dan media streaming global.

Contohnya, wisata ke Pulau Jeju (Korea Selatan) untuk mengunjungi lokasi drama Crash Landing on You, menjelajahi London dan Skotlandia untuk merasakan magisnya dunia Harry Potter, atau mengunjungi Pulau Belitung yang terkenal berkat film Laskar Pelangi.

Tren set-jetting juga mulai berkembang di Indonesia melalui serial Netflix seperti Gadis Kretek, yang mempopulerkan kota-kota bersejarah di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Set-jetting bukan hanya tentang foto di lokasi syuting, tapi juga menyelami cerita dan budaya lokal di balik layar film tersebut.

Destinasi seperti Tuscany di Italia dan Yorkshire di Inggris menjadi sorotan karena menjadi latar dari serial ikonik seperti Downton Abbey dan Wuthering Heights.
Tren ini tak hanya populer di kalangan penggemar film, tetapi juga pelancong yang ingin merasakan atmosfer sinematik dan keindahan lokasi aslinya.

Dengan meningkatnya produksi film internasional dan konten streaming global, fenomena set-jetting menjadi peluang besar bagi destinasi wisata untuk menarik wisatawan melalui narasi budaya populer.
Beberapa negara bahkan mulai mempromosikan “movie trail” atau tur lokasi syuting untuk memperkuat branding pariwisata mereka.

kereta api uap melintas di viaduk jembatan batu melengkung (set-jetting lokasi syuting film)
Fenomena Set-Jetting: Perjalanan ke lokasi syuting film atau serial populer, seperti lokasi syuting Harry Potter. Sumber: pexels.com/Marco De Luca

Tren Tambahan: Kebangkitan Slow Travel dan Smart Travel

Selain enam tren utama di atas, laporan Expedia Group juga menyoroti kebangkitan gaya liburan slow travel, yakni konsep perjalanan yang berfokus pada menikmati satu destinasi secara mendalam, tanpa terburu-buru.
Wisatawan slow travel biasanya tinggal lebih lama, berinteraksi langsung dengan warga lokal, dan memprioritaskan kualitas pengalaman dibandingkan kuantitas destinasi.

Beberapa daerah yang menonjol dalam kategori Smart Travel Health Check 2026 meliputi:

  • Big Sky (Montana, AS)
  • Okinawa (Jepang)
  • Hobart (Australia)
  • Savoie (Prancis)

Destinasi tersebut mengalami peningkatan pencarian hingga 51 persen, menandakan semakin tingginya minat terhadap wisata sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

CEO Expedia Group, Ariane Gorin, menegaskan bahwa masa depan pariwisata global harus berorientasi pada kecerdasan, keberlanjutan, dan penghormatan terhadap budaya lokal.
Pernyataan ini sejalan dengan visi World Travel & Tourism Council (WTTC) yang menilai bahwa pendekatan ini penting untuk melindungi warisan budaya dan ekosistem global.

Liburan 2026 akan Lebih Personal, Autentik, dan Bermakna

Memasuki tahun 2026, cara orang berwisata tidak lagi sekadar mencari hiburan. Mereka mendambakan hubungan emosional, makna budaya, dan keseimbangan hidup.
Tren seperti fan voyage, salvaged stays, hotel hop, readaways, farm charm, dan set-jetting menjadi bukti nyata bahwa wisata modern kini mengutamakan cerita, pengalaman, dan keberlanjutan.

Bagi pelaku industri pariwisata, memahami tren ini berarti mempersiapkan diri menghadirkan produk dan layanan yang lebih inklusif, autentik, dan ramah lingkungan.
Sementara bagi wisatawan, 2026 menjadi momentum untuk menjelajah dunia dengan cara baru—lebih sadar, lebih terhubung, dan lebih bermakna.

Dengan beragam pilihan ini, setiap traveler bisa menemukan gaya liburannya sendiri yang sesuai dengan nilai dan minat pribadi. Jadi, dari keenam tren tersebut, tren liburan 2026 mana yang paling ingin kamu coba?

Tagged:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

[mc4wp_form]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *