Home / Trending / Puluhan Ribu Investor Ritel Nyangkut, Pengendali DADA Raup Cuan Ratusan Miliar: Analisis Lengkap Drama Saham DADA 2025

Puluhan Ribu Investor Ritel Nyangkut, Pengendali DADA Raup Cuan Ratusan Miliar: Analisis Lengkap Drama Saham DADA 2025

Ilustrasi bangunan properti dan hotel mewah PT Diamond Citra Propertindo Tbk DADA.

Pasar modal Indonesia kembali diramaikan oleh salah satu drama paling kontroversial tahun 2025: fenomena liar saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA). Pergerakan harga tak wajar, rumor akuisisi internasional, aksi jual besar-besaran pemegang saham pengendali, hingga ribuan investor ritel yang terjebak di harga pucuk, semuanya membentuk rangkaian peristiwa yang kini menjadi pembelajaran berharga tentang risiko gorengan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Artikel ini merangkum perjalanan lengkap saham DADA: dari reli ekstrem, aksi cuan besar pemegang kendali, hingga kolapsnya harga ke level gocap. Dengan struktur analitis dan keyword SEO trending seperti saham DADA nyangkut, investor ritel rugi, saham gocap, Vanguard rumor, dan aksi jual pengendali, artikel ini dirancang sebagai konten evergreen yang mudah ditemukan mesin pencari.

Reli Spektakuler DADA: Melonjak Dari Rp10 ke Rp240 dalam Waktu Singkat

Awal 2025 menjadi titik awal perhatian pasar terhadap saham DADA. Tanpa kabar fundamental yang signifikan, saham ini perlahan mulai merangkak naik dari bawah Rp10 per lembar. Namun lonjakan sesungguhnya baru terjadi antara pertengahan tahun hingga Oktober 2025, ketika harga saham meroket hingga Rp240 per saham.

Kenaikan sekitar 525% year-to-date tersebut menjadi salah satu reli paling ekstrem di BEI. Pergerakan irrasonal ini tidak hanya memicu spekulasi besar, tetapi juga menarik gelombang investor ritel yang terjebak fenomena fear of missing out (FOMO).

Lonjakan harga yang luar biasa tanpa dukungan kinerja fundamental memicu tanda tanya besar. Banyak analis mengingatkan bahwa reli ini berpotensi menjadi reli semu atau hasil dari aktivitas spekulatif. Namun narasi viral di media sosial lebih dominan, sehingga peringatan itu tenggelam oleh euforia publik.

Rumor Akuisisi Vanguard: Pemicu Euforia yang Berakhir Tragis

Katalis paling kuat yang mendorong harga DADA adalah rumor akuisisi dari The Vanguard Group, salah satu manajer investasi terbesar di dunia. Isu yang tidak pernah dikonfirmasi itu menyebar luas melalui platform online dan berbagai kanal influencer pasar modal.

Narasi yang beredar menyebutkan bahwa jika akuisisi benar terjadi, harga saham DADA bisa melambung hingga Rp230.000 per saham — angka yang tidak masuk akal, namun justru memicu pembelian besar-besaran dari ritel.

Tidak adanya klarifikasi resmi membuat rumor ini berkembang liar. Banyak investor masuk karena mengira mereka sedang berada di awal “kesempatan besar”, padahal tidak ada satupun bukti kredibel yang mendukung spekulasi tersebut.

Lebih memprihatinkan lagi, ketika euforia memuncak, investor institusi yang biasanya lebih berhati-hati mulai keluar. Di sinilah pola klasik gorengan saham terlihat jelas: ritel masuk saat puncak, sementara investor berpengalaman justru keluar pelan-pelan.

Investor memotret layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menampilkan kode saham dan harga.
Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah fluktuasi IHSG. Investor ritel DADA menjadi korban dari spekulasi di pasar modal.

Aksi Jual Pengendali: Mengantongi Cuan Ratusan Miliar Saat Harga Melonjak

Di tengah harga yang bergerak vertikal, pemegang saham pengendali, PT Karya Permata Inovasi Indonesia (KPII), justru mengambil langkah berbeda. Pada 10 Oktober 2025, hari ketika saham DADA menyentuh harga tertinggi, KPII melepas sekitar 2,14 miliar saham.

Dengan asumsi harga penutupan DADA saat itu berada pada Rp152 per saham, KPII diperkirakan meraih dana sekitar:

Rp 326 miliar

Jumlah fantastis ini dihasilkan hanya dari satu kali aksi divestasi.

Setelah aksi jual tersebut, porsi kepemilikan KPII merosot tajam dari 69,58% menjadi 29,6%, mencerminkan langkah strategis untuk keluar tepat saat harga berada di puncak.

Manajemen DADA kemudian menjelaskan bahwa penjualan tersebut digunakan untuk memenuhi kewajiban perbankan dan menyediakan modal kerja untuk proyek perusahaan. Walaupun secara hukum sah, publik tetap menyoroti momen pelepasan saham yang dianggap “terlalu tepat waktu”, terutama karena dilakukan ketika investor ritel sedang euforia membeli.

Harga Ambruk ke Level Gocap: 55 Ribu Investor Ritel Nyangkut Tanpa Jalan Keluar

Setelah reli ekstrem, kejatuhan saham DADA terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Harga saham turun bertahap sebelum akhirnya jatuh ke Rp50 per saham — level gocap yang merupakan harga terendah di BEI.

Yang membuat kasus ini semakin buruk adalah fakta bahwa saham DADA mengalami freeze di harga gocap selama 18 hari perdagangan, artinya:

  • Tidak ada pergerakan harga
  • Tidak ada minat beli
  • Investor yang ingin menjual tidak dapat keluar

Data BEI pada 14 November 2025 mencatat bahwa transaksi DADA hanya sekitar Rp83 juta, sangat jauh dari transaksi hingga Rp900 miliar ketika euforia masih berlangsung.

Laporan bulanan BEI juga menunjukkan bahwa selama Oktober 2025:

  • 55.598 investor baru masuk ke saham DADA
  • Mayoritas membeli saat harga berada di puncaknya
  • Total investor DADA kini mencapai 71.159 investor

Dari jumlah tersebut, 69,93% merupakan investor ritel. Artinya puluhan ribu investor kini berada dalam kondisi nyangkut massal.

Antrian jual di harga Rp50 bahkan menumpuk hingga 36,1 miliar lembar saham, sementara antrian beli (bid) kosong total — kondisi parah yang menandakan saham ini telah menjadi sleeping stock.

Kontroversi Alamat Kantor DADA: Warung Kelontong di Google Street View

Di tengah kejatuhan harga, publik dibuat semakin bingung oleh kontroversi lain: alamat kantor resmi DADA yang tertera di situs BEI ternyata mengarah ke sebuah warung kelontong.

Temuan dari akun Instagram @parakontrarian menunjukkan bahwa ketika alamat perusahaan dimasukkan ke Google Maps atau Google Street View, lokasi yang muncul adalah bangunan sederhana yang berfungsi sebagai toko kelontong di pinggir jalan kecil.

Penelusuran lanjutan menemukan bahwa:

  • Alamat tersebut juga digunakan oleh Dave Apartment, proyek properti yang dikembangkan DADA
  • Ada kemungkinan bahwa perusahaan menggunakan alamat proyek sebagai alamat korespondensi
  • Namun kondisi fisik bangunan tidak mencerminkan kantor perusahaan tercatat di bursa

Hingga akhir November 2025, belum ada pernyataan resmi dari manajemen mengenai perbedaan ini, sehingga memicu kecurigaan investor terkait tata kelola perusahaan.

Tangkapan layar Google Maps Dave Apartment, proyek properti DADA di Depok, Jawa Barat.
Tangkapan layar informasi Dave Apartment, salah satu proyek yang dikembangkan DADA, yang alamatnya menjadi kontroversi di kalangan investor.

Struktur Kepemilikan Berubah Drastis: Ritel Mendominasi, Institusi Menyingkir

Lonjakan harga diikuti oleh perubahan besar dalam komposisi pemegang saham. Data terbaru menunjukkan:

  • 69,93% saham kini dimiliki masyarakat (investor ritel)
  • 29,6% dipegang KPII
  • 0,47% milik komisaris Tjandra Tjokrodiponto

Dominasi ritel dalam jumlah besar sering kali menjadi indikator bahwa saham telah kehilangan minat dari investor besar atau institusi — sehingga tingkat volatilitas semakin tinggi dan risiko gorengan meningkat.

Volume Perdagangan “Kering”: Indikasi Saham Kehilangan Likuiditas

Salah satu masalah terbesar saham gocap adalah minimnya aktivitas perdagangan. Pada 14 November, volume DADA hanya mencapai 1,6 juta lembar, angka yang sangat kecil dibandingkan kapitalisasi pasar ratusan miliar.

Tidak adanya antrian beli membuat investor tidak bisa menjual saham mereka sama sekali. Dengan kata lain:

Kerugian yang ada berpotensi permanen

Kondisi ini membuat saham DADA masuk dalam kategori sleeping stock — saham yang tidak bergerak dan tidak likuid.

Pelajaran Penting dari Drama Saham DADA

Kejadian DADA 2025 meninggalkan banyak pelajaran bagi investor ritel:

1. Jangan Percaya Rumor Tanpa Verifikasi

Isu akuisisi oleh Vanguard hanyalah spekulasi tanpa dasar.

2. Lonjakan Tak Wajar Adalah Alarm

Harga yang naik 500% dalam hitungan bulan tanpa fundamental yang jelas adalah sinyal bahaya.

3. Cek Profil Perusahaan Secara Detail

Alamat kantor yang merujuk ke warung kelontong seharusnya menjadi tanda tanya besar.

4. Institusi Keluar, Ritel Masuk — Pola Berulang Saham Gorengan

Perhatikan arus kepemilikan saham untuk mendeteksi manipulasi.

5. Likuiditas Adalah Segalanya

Tidak likuid = tidak bisa jual = potensi kerugian permanen.

Ilustrasi bangunan properti dan hotel mewah PT Diamond Citra Propertindo Tbk DADA.
Ilustrasi proyek properti yang dikembangkan oleh PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) yang fundamentalnya tidak sebanding dengan lonjakan harga sahamnya.

Ritel Terluka, Pengendali Mengantongi Keuntungan Besar

Drama saham DADA pada 2025 akan dikenang sebagai salah satu contoh paling mencolok dari risiko gorengan saham di Indonesia. Ditopang rumor yang tidak berdasar dan euforia sesaat, puluhan ribu investor ritel kini terjebak pada harga gocap tanpa jalan keluar.

Sementara itu, pemegang saham pengendali berhasil mencairkan keuntungan ratusan miliar rupiah tepat sebelum harga saham runtuh.

Kasus ini menjadi pengingat keras pentingnya analisis fundamental, kehati-hatian terhadap rumor, dan kesadaran terhadap risiko likuiditas sebelum membeli saham apapun.

Sumber : http://www.bloombergtechnoz.com, http://bengkulu.pikiran-rakyat.com, http://www.bloombergtechnoz.com

Tagged:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

[mc4wp_form]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *