Pertandingan Derby della Madonnina antara AC Milan vs Inter Milan kembali menghadirkan drama dan intensitas tinggi khas rivalitas dua tim sekota asal kota mode tersebut. Dalam laga panas yang digelar di Stadion Giuseppe Meazza, Senin (24/11/2025) dini hari WIB, AC Milan berhasil menundukkan Inter Milan dengan skor tipis 1-0.
Gol semata wayang Christian Pulisic di babak kedua serta penampilan heroik Mike Maignan di bawah mistar menjadi faktor kunci kemenangan Milan. Tak hanya itu, hasil ini juga menandai momen bersejarah bagi pelatih Massimiliano Allegri, yang mencatatkan kemenangan ke-100 bersama Rossoneri di semua kompetisi.
Kemenangan Berarti di Tengah Persaingan Ketat Serie A
Kemenangan dalam Derby della Madonnina ini memiliki arti lebih dari sekadar gengsi kota Milan. Dengan tambahan tiga poin, AC Milan kini menempati posisi kedua klasemen sementara Serie A 2025/2026, hanya terpaut dua poin dari pemuncak klasemen, AS Roma.
Sebaliknya, Inter Milan harus rela turun ke posisi keempat setelah gagal memanfaatkan dominasi permainan mereka. Pertarungan papan atas Serie A pun kini semakin ketat, di mana empat tim teratas — Roma, Milan, Napoli, dan Inter — hanya dipisahkan selisih tipis poin.
Massimiliano Allegri menegaskan bahwa kemenangan di derby adalah pembuktian mental dan kualitas tim. Namun, ia juga memperingatkan bahwa inkonsistensi performa melawan tim-tim kecil bisa menjadi penghalang utama dalam perburuan Scudetto musim ini.
“Kami harus memahami bahwa ketika intensitas permainan menurun, kami menjadi rentan,” ujar Allegri dalam konferensi pers pasca-laga. “Kemenangan di laga besar tidak akan berarti jika kami kehilangan poin melawan tim papan bawah.”
Christian Pulisic: Sang Pembeda di Derby Milan
Nama Christian Pulisic kembali menjadi sorotan utama. Pemain asal Amerika Serikat ini tampil sebagai penentu kemenangan setelah mencetak satu-satunya gol di menit ke-54.
Gol tersebut berawal dari skema serangan balik cepat — senjata utama Milan di bawah Allegri. Youssouf Fofana merebut bola dari Hakan Calhanoglu di lini tengah dan mengoper kepada Alexis Saelemaekers yang langsung melepaskan tembakan. Bola berhasil ditepis kiper Yann Sommer, namun Pulisic dengan refleks cepat menyambar bola rebound untuk mengubah skor menjadi 1-0.
Gol ini bukan hanya menunjukkan insting tajam Pulisic di kotak penalti, tetapi juga menegaskan betapa efektifnya strategi serangan balik Milan saat menghadapi tim-tim dengan gaya menyerang agresif seperti Inter.
Dengan gol ini, Pulisic kini telah mencetak enam gol di Serie A musim ini — menjadikannya salah satu pemain paling produktif Rossoneri.

Mike Maignan: Benteng Kokoh di Bawah Mistar
Jika Pulisic adalah pahlawan di depan, maka Mike Maignan adalah penyelamat di belakang. Kiper asal Prancis ini tampil luar biasa sepanjang pertandingan dengan sederet penyelamatan penting yang membuat frustasi para pemain Inter.
Momen paling menentukan datang pada menit ke-73 ketika Inter mendapat hadiah penalti setelah VAR mendeteksi pelanggaran Strahinja Pavlovic terhadap Marcus Thuram di kotak terlarang. Hakan Calhanoglu, yang dikenal sebagai eksekutor penalti ulung, melangkah ke depan gawang. Namun, Maignan dengan tenang membaca arah bola dan menepis tendangan datar Calhanoglu ke sisi kiri gawang dengan satu tangan kuat.
Selain menggagalkan penalti, Maignan juga melakukan penyelamatan gemilang lainnya — termasuk menepis sundulan Marcus Thuram dan menghentikan tendangan voli Lautaro Martinez.
Performa Maignan ini membuatnya dijuluki “Tembok San Siro” oleh media Italia, sekaligus memperkuat statusnya sebagai salah satu kiper terbaik dunia saat ini.
Inter Milan: Dominan Tapi Tanpa Hasil
Secara statistik, Inter Milan memang tampil lebih dominan dalam penguasaan bola dan jumlah peluang. Pasukan Cristian Chivu mencatatkan sembilan tendangan sudut, sedangkan Milan hanya satu. Mereka juga beberapa kali nyaris mencetak gol, termasuk sundulan Francesco Acerbi yang membentur tiang gawang.
Namun, dominasi tersebut tidak berbuah hasil karena penyelesaian akhir yang kurang klinis dan pertahanan disiplin Milan.
Lini depan Inter yang biasanya tajam — dengan total 26 gol dalam 11 laga sebelumnya — kali ini tumpul. Kegagalan mengonversi peluang menjadi gol menjadi penyebab utama kekalahan mereka di laga ini.
Kekalahan 0-1 dari Milan menjadi tamparan keras bagi Inter yang sebelumnya tak terkalahkan di enam laga terakhir. Hasil ini juga menunjukkan bahwa meski secara permainan mereka unggul, ketidakefisienan di kotak penalti bisa berakibat fatal.
Rekor Bersejarah Massimiliano Allegri
Kemenangan ini membawa Massimiliano Allegri masuk ke dalam daftar pelatih legendaris AC Milan. Dengan 100 kemenangan di semua kompetisi, ia kini sejajar dengan nama-nama besar seperti Carlo Ancelotti, Fabio Capello, dan Arrigo Sacchi.
Namun, seperti karakter khasnya, Allegri tetap rendah hati dan lebih fokus pada evaluasi performa tim daripada rekor pribadi.
Ia mengingatkan para pemainnya agar tidak lengah. Beberapa kali musim ini, Milan kehilangan poin penting melawan tim-tim seperti Cremonese, Parma, dan Pisa — hal yang membuat mereka gagal menjaga momentum dalam perburuan gelar.
“Kemenangan seperti ini adalah hasil dari kerja keras dan mentalitas, tapi yang paling sulit adalah mempertahankan konsistensi di setiap pertandingan,” tutur Allegri.

Dampak Kemenangan: Peta Persaingan Scudetto Makin Sengit
Kemenangan AC Milan atas Inter Milan bukan hanya soal gengsi, tapi juga berpengaruh besar terhadap peta persaingan Scudetto Serie A 2025/2026.
Dengan tambahan tiga poin, Milan kini mengoleksi 25 poin, menyamai Napoli, dan hanya terpaut dua poin dari AS Roma yang memuncaki klasemen. Inter berada di posisi keempat dengan 24 poin — jarak yang sangat tipis di antara empat tim papan atas.
Persaingan ini diyakini akan semakin menarik hingga akhir musim, mengingat empat tim tersebut menunjukkan konsistensi tinggi dan kedalaman skuad yang seimbang.
Bagi Milan, kemenangan di Derby della Madonnina menjadi dorongan moral yang signifikan sekaligus bukti bahwa mereka mampu bersaing dengan rival terkuat.
Analisis Taktikal: Efisiensi vs Dominasi
Secara taktik, laga ini menjadi contoh klasik dari benturan dua filosofi permainan:
- Inter Milan tampil dengan gaya menyerang berbasis penguasaan bola dan pressing tinggi.
- AC Milan memilih pendekatan pragmatis dengan blok rendah dan transisi cepat ke depan.
Keputusan Allegri untuk menumpuk pemain di lini tengah dan memanfaatkan kecepatan Pulisic serta Leão di sayap terbukti efektif. Milan memang kalah dalam statistik (Inter unggul 65% penguasaan bola), namun mereka lebih efisien dalam memanfaatkan peluang.
Sementara itu, Inter terlihat terlalu bergantung pada permainan sayap dan crossing, yang justru mudah dipatahkan duet Tomori–Pavlovic. Ketika peluang emas gagal dimaksimalkan, Milan menghukum mereka lewat serangan balik cepat yang berujung gol Pulisic.
Suara dari Ruang Ganti
- Christian Pulisic: “Saya hanya mencoba berada di posisi yang tepat. Tim bermain luar biasa dalam bertahan, dan saya senang bisa membantu dengan gol ini.”
- Mike Maignan: “Penalti selalu soal intuisi dan keberanian. Saya tahu arah bola Calhanoglu karena sering berlatih bersama dulu.”
- Massimiliano Allegri: “Saya bangga pada pemain. Namun, tantangan sebenarnya adalah tetap fokus di laga-laga berikutnya.”
Sementara itu, Cristian Chivu, pelatih Inter, mengakui kekecewaannya:
“Kami mengontrol pertandingan, tapi tidak cukup tajam. Maignan membuat perbedaan besar hari ini.”

Derby Della Madonnina: Lebih dari Sekadar Pertandingan
Derby della Madonnina bukan hanya duel sepak bola — ini adalah simbol kebanggaan dan sejarah panjang dua klub elite Italia. Rivalitas Rossoneri (Merah-Hitam) dan Nerazzurri (Biru-Hitam) selalu menciptakan tensi luar biasa, baik di lapangan maupun di tribun.
Dengan kemenangan ini, Milan kini memperkecil rekor head-to-head mereka dalam lima pertemuan terakhir (sebelumnya Inter unggul tiga kemenangan).
Bagi para tifosi, kemenangan ini menjadi obat manis setelah musim lalu Milan kalah dua kali di semua ajang dari rival sekota mereka.
Statistik Pertandingan Inter vs AC Milan (Serie A 2025/2026)
| Statistik | Inter Milan | AC Milan |
|---|---|---|
| Penguasaan Bola | 65% | 35% |
| Tendangan ke Gawang | 8 | 4 |
| Peluang Besar | 5 | 2 |
| Tendangan Sudut | 9 | 1 |
| Penalti | 1 (gagal) | 0 |
| Gol | 0 | 1 (Pulisic 54’) |
| Kiper Terbaik | – | Mike Maignan |
| Pelatih | Cristian Chivu | Massimiliano Allegri |

Milan Kembali Menunjukkan DNA Juara
Kemenangan tipis namun bersejarah ini menjadi bukti bahwa AC Milan di bawah Massimiliano Allegri kembali menemukan DNA juara mereka.
Dengan kombinasi disiplin pertahanan, efisiensi serangan balik, dan mental juang tinggi, Rossoneri sukses membungkam rival sekota yang lebih diunggulkan.
Derby della Madonnina 2025/2026 akan dikenang sebagai laga di mana Christian Pulisic menjadi pembeda, Mike Maignan tampil bak tembok tak tertembus, dan Massimiliano Allegri menorehkan tonggak sejarah ke-100 kemenangannya bersama Milan.
Jika Milan mampu mempertahankan performa seperti ini secara konsisten, bukan mustahil Scudetto akan kembali ke sisi merah kota Milan musim ini.








