Lumajang, Jawa Timur — Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat pada akhir 2025 dan menarik perhatian nasional. Gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl itu menunjukkan intensitas erupsi yang signifikan melalui awan panas guguran (APG), peningkatan seismisitas, serta kubah lava yang terus bertumbuh di puncak Jonggring Saloko. Kondisi ini membuat PVMBG menetapkan status Siaga (Level III) dan mengeluarkan sejumlah imbauan kepada masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Peningkatan aktivitas ini tidak hanya menjadi isu lokal bagi warga Lumajang dan sekitarnya, tetapi juga berdampak pada aspek sosial, ekonomi, hingga logistik jalur pendakian yang menghubungkan Ranu Pane, Oro-Oro Ombo, hingga Ranu Kumbolo. Dengan karakter Semeru yang dikenal memiliki siklus erupsi jangka panjang, pakar kebencanaan menilai bahwa fase yang terjadi pada akhir tahun ini merupakan bagian dari proses alami gunung api tipe stratovolcano yang masih aktif.
Awan Panas Guguran Mengarah ke Besuk Kobokan
Dalam laporan resmi yang dirilis PVMBG, awan panas guguran pada periode terakhir teramati mengarah ke sektor tenggara, terutama Besuk Kobokan, daerah yang selama ini menjadi jalur langganan aliran lava dan guguran material panas. Guguran material terekam dengan jarak luncur hingga beberapa kilometer, dengan amplitudo seismik yang menunjukkan peningkatan energi.
Warga di Dusun Kajar Kuning dan sekitarnya diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas di dekat bantaran sungai yang berhulu di Semeru, terutama ketika terjadi hujan. Material erupsi yang menumpuk dapat berubah menjadi lahar dingin dan sewaktu-waktu meluncur dengan cepat, membawa pasir, batu, bahkan kayu besar.
BPBD Jawa Timur juga menyiapkan tim pemantau khusus di beberapa titik rawan untuk memastikan jalur aliran lahar dapat dipantau secara real-time. Teknologi sensor banjir lahar yang dipasang pasca erupsi besar 2021 juga kembali diaktifkan untuk mendukung sistem peringatan dini.
Evakuasi Warga dan Aktivasi Posko Tanggap Darurat
Meningkatnya aktivitas Semeru mendorong pemerintah daerah untuk mengaktifkan Posko Pengungsian di beberapa lokasi yang dianggap aman. BPBD Lumajang bekerja sama dengan TNI, Polri, dan relawan melakukan penyisiran ke sejumlah wilayah permukiman yang paling dekat dengan sumber bahaya.
Hingga berita ini diturunkan, ratusan warga memilih mengungsi mandiri ke rumah kerabat di lokasi yang lebih jauh dari zona rawan. Pemerintah menyediakan logistik dasar seperti makanan siap saji, selimut, kasur lipat, dan kebutuhan sanitasi untuk para pengungsi yang bertahan di posko.
Kepala BPBD Jawa Timur mengimbau warga untuk tidak panik, tetapi tetap disiplin mematuhi arahan petugas. “Kondisi Semeru saat ini masih dalam pemantauan intensif. Yang terpenting adalah keselamatan warga, terutama mereka yang tinggal dalam radius potensi bahaya,” ujarnya.

Aktivitas Seismik Meningkat: Analisis Pakar Vulaknologi
Para peneliti dari PVMBG menjelaskan bahwa lonjakan aktivitas Semeru dipengaruhi oleh akumulasi magma baru dari dalam dapur magma yang mendorong pertumbuhan kubah lava. Material segar ini kemudian meluruh dan memicu awan panas guguran, fenomena yang umum terjadi pada gunung berapi bertipe letusan efusif.
Seismograf di Pos Pasrujambe mencatat adanya peningkatan jumlah gempa guguran, gempa hembusan, hingga gempa vulkanik dangkal. Meski tidak menunjukkan tanda-tanda letusan eksplosif besar, aktivitas ini tetap harus diwaspadai karena aliran awan panas bisa terjadi tiba-tiba dan tanpa suara keras terlebih dahulu.
Ahli vulkanologi dari Universitas Brawijaya, Malang, menegaskan bahwa Semeru merupakan gunung yang hampir tidak pernah benar-benar “istirahat”. Sepanjang tahun, aktivitasnya fluktuatif, dan sering kali menunjukkan fase peningkatan yang berulang.
“Yang perlu dipahami masyarakat adalah, Semeru memiliki karakter erupsi berkala. Siklusnya panjang, tetapi tidak pernah benar-benar berhenti. Oleh karena itu, kewaspadaan harus menjadi budaya,” jelasnya.
Dampak Ekonomi: Pertanian, Transportasi, dan Jalur Pendakian
Erupsi Semeru memberi dampak besar pada sektor ekonomi masyarakat sekitar, terutama pertanian. Abu vulkanik yang terbawa angin ke arah barat dan barat daya menyebabkan tanaman sayur dan hortikultura di beberapa desa mengalami kerusakan. Daun tanaman banyak yang mengering, dan beberapa petani mengaku sulit melakukan panen karena batang tanaman tertutup debu tebal.
Selain itu, jalur transportasi di beberapa titik harus ditutup sementara akibat jarak pandang terbatas. Dampak ini membuat aktivitas perdagangan terganggu karena pengiriman barang menjadi lebih lambat. Pemerintah daerah menyediakan alat berat untuk membersihkan jalan utama dari tumpukan abu yang menutupi permukaan aspal.
Dari sisi pariwisata, jalur pendakian menuju Ranu Kumbolo, Kalisat, dan Puncak Mahameru resmi ditutup karena alasan keamanan. Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menegaskan bahwa keselamatan pengunjung adalah prioritas utama. Penutupan jalur ini berdampak pada pendapatan para porter, penyedia jasa sewa tenda, serta warung di sekitar Ranu Pane.

Respon Cepat Pemerintah dan Koordinasi Penanganan
Pemerintah pusat melalui BNPB turut mengirimkan dukungan logistik tambahan berupa tenda keluarga, masker, oksigen darurat, hingga peralatan komunikasi. Bersamaan dengan itu, helikopter patroli dikerahkan untuk memetakan arah aliran lava dan potensi jalur lahar.
Kolaborasi antara BNPB, BPBD Jatim, TNI, Polri, dan relawan mempercepat proses penanganan. Relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan membuat dapur umum, sementara tim kesehatan membuka layanan medis darurat untuk warga yang mengalami penyakit pernapasan akibat paparan abu vulkanik.
“Penanganan Semeru memerlukan kerja cepat dan terkoordinasi. Kami memastikan semua kebutuhan dasar warga terpenuhi,” kata Kepala BNPB dalam konferensi pers.
Mitigasi Jangka Panjang: Menata Kembali Kawasan Rawan Bencana
Selain penanganan jangka pendek, pemerintah mulai menyusun rencana jangka panjang untuk mengurangi risiko bencana. Salah satu fokus utama adalah mengatur ulang kawasan permukiman yang terlalu dekat dengan jalur aliran awan panas dan sungai berhulu Semeru.
Pakar mitigasi bencana menilai bahwa pemukiman di wilayah rawan sebaiknya direlokasi secara bertahap untuk menghindari risiko besar di masa depan. Pengalaman erupsi besar pada 2021 menjadi pelajaran penting bahwa penataan ruang menjadi kunci dalam menyelamatkan nyawa.
Program edukasi publik juga kembali digencarkan. Sekolah-sekolah diberikan modul kebencanaan khusus mengenai gunung api, sementara masyarakat menerima pelatihan evakuasi dan penggunaan masker N95 untuk menghadapi abu vulkanik.
Kesiapan Warga Menghadapi Ancaman Lahar saat Musim Hujan
Memasuki musim hujan, ancaman lahar dingin menjadi fokus utama. Material erupsi yang menumpuk di puncak dan lembah dapat meluncur sewaktu-waktu ketika hujan deras turun. Ini menjadi tantangan tambahan bagi warga di kawasan hilir.
Petugas memasang papan peringatan di sejumlah jembatan dan jalur yang sering dilewati warga, terutama saat beraktivitas di kebun. Warga diminta untuk tidak nekat menyeberangi sungai ketika intensitas hujan tinggi.
BPBD juga menempatkan tim siaga 24 jam yang bertugas memantau perubahan debit air sungai. Informasi peringatan dini disebarkan melalui sirine dan aplikasi pesan singkat yang langsung terhubung dengan pusat informasi.

Situasi Pendaki Gunung: 178 Orang Tertahan di Ranu Kumbolo
Tidak hanya warga di sekitar lereng gunung, para pendaki yang sedang melakukan perjalanan di jalur Gunung Semeru juga terdampak erupsi ini. Sebanyak 178 pendaki tertahan di Ranu Kumbolo, salah satu titik populer pendakian Semeru.
BNPB memastikan bahwa mereka akan mengirim tim khusus dari Deputi 1 untuk memimpin operasi evakuasi pendaki. Pendakian resmi sebenarnya telah dibatasi sejak status gunung naik, tetapi sejumlah pendaki masih berada di jalur saat erupsi terjadi.
Tim SAR gabungan bersiap melakukan evakuasi dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, jarak pandang, dan potensi bahaya tambahan dari erupsi susulan.
Kewaspadaan Tinggi, Koordinasi Terjaga
Peningkatan aktivitas Gunung Semeru pada akhir 2025 menunjukkan bahwa gunung ini masih aktif dan menjadi bagian dari dinamika alam Indonesia sebagai negara cincin api. Dengan sifat erupsi yang bersifat efusif dan berulang, mitigasi menjadi kebutuhan utama yang harus terus diperkuat.
Respons cepat pemerintah, tingkat kewaspadaan warga, dan sistem informasi kebencanaan yang lebih baik dibanding masa lalu menunjukkan bahwa penanganan Semeru berada dalam jalur yang tepat. Namun, masyarakat tetap diminta untuk tidak mendekati zona berbahaya dan selalu mengikuti informasi resmi dari PVMBG serta BPBD.
Sumber : http://www.bnpb.go.id, http://www.kompas.id, http://news.detik.com








