
Cara berpikir atau pikiran tertentu bisa memperburuk kesehatan mental seseorang. Simak penjelasan psikolog.
Kesehatan mental kini semakin mendapat perhatian luas. Banyak penelitian dan pandangan ahli psikologi menegaskan bahwa penderitaan yang dialami seseorang tidak selalu muncul karena peristiwa buruk atau musibah yang menimpanya. Terkadang, penderitaan justru bersumber dari cara berpikir kita sendiri. Fenomena ini sering kali membuat seseorang merasa terjebak dalam lingkaran pikiran negatif yang sulit dihentikan.
Menurut psikolog klinis Tara de Thouars, M.Psi., penderitaan mental sering kali lahir dari pikiran yang memperburuk keadaan. Saat menghadapi kegagalan, kehilangan, atau masalah pribadi, sebagian orang lebih memilih menyalahkan diri sendiri daripada memberi ruang untuk menerima kenyataan. Inilah yang kemudian membuat kondisi psikologis semakin berat.
Pikiran Negatif yang Memperparah Kondisi Mental
Banyak orang tanpa sadar menjadi “musuh” bagi dirinya sendiri. Misalnya, ketika gagal dalam ujian atau pekerjaan, seseorang bisa langsung menilai dirinya bodoh atau tidak berguna. Pikiran yang penuh kritik diri ini tidak hanya menambah beban, tetapi juga menutup peluang untuk bangkit.
Hal serupa juga dapat terjadi ketika seseorang kehilangan orang terdekat. Alih-alih membiarkan diri berduka, mereka justru menyalahkan diri dengan berpikir bahwa dirinya tidak cukup baik atau tidak membahagiakan orang yang sudah pergi. Pola pikir semacam ini menjadikan situasi yang sudah sulit menjadi jauh lebih menyakitkan.
Tara menyebut kondisi ini seperti pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”, di mana pikiran negatif yang kita ciptakan sendiri membuat penderitaan semakin berat.
Tidak Semua Hal Bisa Dikendalikan
Salah satu sumber penderitaan psikologis adalah keyakinan bahwa kita bisa mengendalikan semua hal. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Hidup selalu menghadirkan ketidakpastian, mulai dari penyakit, kehilangan, hingga kejadian tak terduga.
Sayangnya, banyak orang berusaha melawan situasi yang di luar kendali dengan memaksakan diri untuk mengatur semuanya. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, perasaan kecewa, marah, dan sedih pun semakin dalam. Tara mengingatkan pentingnya membedakan hal-hal yang bisa kita kendalikan dan hal-hal yang memang di luar kuasa kita.
Belajar melepaskan kendali terhadap hal-hal yang tak bisa diubah adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.

Pikiran Bisa Memicu Penyakit Fisik (Psikosomatik)
Fenomena psikosomatik menjadi bukti kuat bahwa pikiran dapat memengaruhi kesehatan fisik. Istilah ini berasal dari kata psyche (pikiran) dan soma (tubuh), yang berarti kondisi ketika stres, kecemasan, atau depresi memicu gejala fisik pada tubuh.
Penderita psikosomatik bisa merasakan sakit kepala, nyeri dada, gangguan pencernaan, atau kelelahan, meski hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya kelainan. Hal ini terjadi karena aktivitas saraf otak dan pelepasan hormon stres, seperti adrenalin, membuat tubuh berada dalam kondisi siaga berlebihan.
Beberapa penyakit fisik yang terbukti dapat diperburuk oleh stres dan pikiran negatif antara lain:
- Tekanan darah tinggi
- Tukak lambung
- Diabetes
- Psoriasis dan eksim
- Asma
Dengan kata lain, apa yang kita pikirkan dapat langsung memengaruhi kesehatan tubuh.
Jenis Gangguan Mental yang Sering Dipicu Pikiran Negatif
Selain psikosomatik, beberapa gangguan mental lain juga dapat muncul atau semakin parah akibat pola pikir yang keliru. Beberapa di antaranya adalah:
- Depresi – Ditandai dengan rasa sedih berkepanjangan, kehilangan minat, dan munculnya perasaan tidak berharga.
- Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorders) – Rasa cemas dan khawatir berlebihan yang sulit dikendalikan.
- Bipolar – Perubahan suasana hati ekstrem, dari sangat gembira ke sangat sedih dalam waktu singkat.
- Skizofrenia – Gangguan psikosis yang membuat penderitanya sulit membedakan kenyataan dengan halusinasi.
- Gangguan Makan (Eating Disorders) – Seperti anoreksia, bulimia, atau binge eating disorder.
- Obsessive Compulsive Disorder (OCD) – Dorongan untuk melakukan hal-hal berulang demi mengurangi kecemasan.
- Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) – Trauma akibat pengalaman buruk yang terus membekas.
Jenis-jenis gangguan mental ini menunjukkan betapa erat hubungan antara pikiran, emosi, dan tubuh manusia.
Cara Mengatasi Pikiran yang Menyebabkan Penderitaan
Mengelola pikiran agar tidak menjadi sumber penderitaan membutuhkan latihan mental dan kesadaran diri. Beberapa cara yang disarankan psikolog dan tenaga kesehatan mental antara lain:
1. Psikoterapi
Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah metode populer untuk mengubah cara berpikir negatif. Penderita diajak untuk mengenali pola pikir yang salah dan menggantinya dengan sudut pandang yang lebih sehat.
2. Relaksasi dan Meditasi
Teknik pernapasan, yoga, meditasi, hingga sound bath dapat membantu menurunkan kadar stres. Praktik relaksasi ini menenangkan pikiran dan meredakan gejala psikosomatik.
3. Obat-obatan
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat meresepkan obat antidepresan atau penenang untuk membantu menyeimbangkan zat kimia otak. Namun, penggunaannya harus diawasi ketat oleh psikiater.
4. Gaya Hidup Sehat
Olahraga teratur, tidur cukup, pola makan seimbang, dan menjauhkan diri dari alkohol atau narkoba sangat berpengaruh pada kesehatan mental.
5. Self-Compassion
Belajar memaafkan diri, menerima kegagalan, dan menyadari bahwa manusia tidak sempurna adalah kunci penting untuk mencegah pikiran menjadi sumber penderitaan.
Pentingnya Kesadaran Akan Kesehatan Mental
Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Sayangnya, stigma masih membuat banyak orang enggan mencari bantuan profesional ketika mengalami masalah psikologis. Padahal, konsultasi dengan psikolog atau psikiater bisa membantu seseorang keluar dari lingkaran pikiran negatif yang menyiksa.
Mengenali tanda-tanda awal, seperti perasaan bersalah berlebihan, cemas berkepanjangan, atau gejala psikosomatik, dapat menjadi langkah pencegahan yang efektif. Dengan demikian, penderitaan akibat pikiran sendiri bisa diminimalkan.
Pertanyaan “apakah seseorang bisa menderita karena pikirannya sendiri?” jawabannya ya, bisa. Pikiran negatif, rasa bersalah berlebihan, dan keinginan mengendalikan hal-hal di luar kuasa manusia adalah faktor utama yang memperparah penderitaan mental. Lebih jauh lagi, pikiran yang tidak sehat juga dapat memicu penyakit fisik melalui mekanisme psikosomatik.
Penting bagi setiap orang untuk belajar mengelola pikiran, menerima ketidakpastian hidup, dan mencari bantuan profesional bila dibutuhkan. Dengan kesadaran dan langkah tepat, kita bisa menjaga kesehatan mental dan fisik tetap seimbang.
Sumber : ayosehat.kemkes.go.id, lifestyle.kompas.com, www.halodoc.com, www.alodokter.com









