Home / Trending / Saham, Emas, dan Kripto Kompak Melesat: Ini Penyebab Lonjakan Serentak di Tengah Ketidakpastian Global

Saham, Emas, dan Kripto Kompak Melesat: Ini Penyebab Lonjakan Serentak di Tengah Ketidakpastian Global

crypto vs gold which is a safer investment 2
Karyawati menunjukkan batangan emas Antam 999.9 seberat 250g, 500g, dan 250g di kotak hitam, merefleksikan lonjakan harga emas.
Karyawati menunjukkan emas PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) di salah satu gallery penjualan emas di Jakarta.
Harga emas melonjak tajam seiring kekhawatiran fiskal global. Sumber: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Saham, emas, dan kripto kompak melonjak di tengah gejolak global. Apa pemicu utamanya? Simak analisis lengkap tren pasar terkini di sini.

keuangan global kembali menunjukkan pergerakan mengejutkan. Dalam beberapa hari terakhir, harga saham, emas, dan aset kripto seperti Bitcoin sama-sama melonjak tajam. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi di balik lonjakan serentak berbagai instrumen investasi tersebut?

Kekhawatiran Fiskal Dunia Mendorong “Debasement Trade”

Laporan Bloomberg mencatat bahwa kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal di sejumlah ekonomi besar seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Eropa tengah meningkat tajam. Kondisi ini memunculkan fenomena yang disebut “debasement trade”, yaitu pergeseran investasi besar-besaran dari mata uang utama menuju aset alternatif seperti emas, perak, dan Bitcoin.

Investor kini menilai mata uang fiat semakin rentan terhadap pelemahan nilai akibat tumpukan utang pemerintah yang terus membengkak dan kebijakan fiskal ekspansif. Di tengah kondisi tersebut, aset seperti emas dan kripto dianggap sebagai “tempat aman” untuk melindungi nilai kekayaan jangka panjang.

“Situasi politik di berbagai negara memberi alasan kuat bagi investor untuk membeli emas dan Bitcoin sebagai lindung nilai atas penurunan nilai mata uang,” ujar Chris Weston, Kepala Riset Pepperstone Group. Ia menambahkan bahwa fenomena ini telah menjadi “perdagangan momentum besar” yang didorong oleh psikologi pasar — ketika harga naik, semakin banyak investor yang ingin ikut serta.

Yen dan Euro Melemah, Dolar AS di Bawah Tekanan

Mata uang global pun ikut bergejolak. Yen Jepang anjlok 1,6% terhadap dolar AS setelah politisi pro-stimulus Sanae Takaichi dijadwalkan menjadi perdana menteri baru. Kebijakan fiskal ekspansionis yang ia dukung memicu ekspektasi stimulus baru, sehingga menekan nilai yen.

Sementara itu, Euro juga melemah 0,1% terhadap dolar AS, di tengah ketidakpastian politik di Prancis setelah pergantian perdana menteri. Indeks dolar Bloomberg sempat naik 0,3% untuk menghapus sebagian penurunan pekan sebelumnya, namun secara tahunan masih tercatat turun sekitar 8%.

Menurut analis JPMorgan Chase & Co., pelemahan dolar AS terhadap aset alternatif ini merupakan pola yang sering muncul “di tengah disfungsi politik Washington”, terutama saat pemerintah AS menghadapi risiko penutupan atau krisis utang.

Gabungan koin Bitcoin digital dan tumpukan batangan emas fisik sebagai aset safe haven.
Bitcoin (kiri) dan Emas (kanan) sering disebut sebagai “emas digital” dan “emas fisik”, keduanya berfungsi sebagai lindung nilai terhadap pelemahan mata uang fiat. Sumber: radarpalembang.bacakoran.com

Emas Cetak Rekor, Perak dan Bitcoin Ikut Naik

Harga emas menjadi sorotan utama dalam reli terbaru. Berdasarkan data The Wall Street Journal, emas berjangka melonjak 1,7% ke US$3.948,50 per troy ons, mendekati level psikologis US$4.000. Sejak awal tahun, logam mulia ini telah naik lebih dari 50%.

Kenaikan serupa juga terjadi pada perak, yang naik 1% ke level US$48,08 per troy ons — tertinggi sejak 2011. Bitcoin, di sisi lain, bertahan di atas US$125.000, bahkan sempat menyentuh US$126.273, mendekati rekor tertingginya sepanjang masa.

Analis menyebut tren ini sebagai refleksi dari keinginan investor untuk melindungi nilai tukar terhadap pelemahan mata uang jangka panjang. Bitcoin kerap disebut “emas digital” karena sifatnya yang langka dan tidak bergantung pada kebijakan moneter pemerintah.

Sinyal The Fed dan Penurunan Suku Bunga Jadi Pemicu Tambahan

Faktor lain yang memperkuat reli ini adalah ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Dengan pemerintah AS masih mengalami shutdown dan data ekonomi tertunda, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga dua kali lagi sebelum akhir tahun.

Suku bunga yang lebih rendah secara historis meningkatkan daya tarik emas dan Bitcoin karena kedua aset tersebut tidak menghasilkan bunga, namun cenderung naik nilainya saat imbal hasil obligasi turun.

“Ketika siklus pengetatan The Fed berakhir, emas biasanya mulai reli,” jelas Jay Hatfield, CEO Infrastructure Capital Advisors. “Dan sekarang kita sedang keluar dari kondisi moneter yang ketat.”

Saham AS dan Asia Ikut Menguat

Di pasar saham, indeks S&P 500 naik 0,4%, mencetak rekor penutupan ke-32 tahun ini, sementara Nasdaq Composite naik 0,7% dan menorehkan rekor tertinggi ke-31 sepanjang 2025. Meski Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,1%, reli sektor teknologi menjadi pendorong utama pasar.

Saham Advanced Micro Devices (AMD) melonjak 24% setelah mengumumkan kemitraan miliaran dolar dengan OpenAI untuk pengembangan pusat data kecerdasan buatan (AI). Kapitalisasi pasar AMD meningkat lebih dari US$63 miliar dalam sehari — lonjakan terbesar dalam sejarah perusahaan.

Selain itu, Fifth Third Bancorp mengumumkan akuisisi Comerica senilai US$10,9 miliar, yang membuat saham Comerica naik 14%.

Investor Global Abaikan Penutupan Pemerintah AS

Menariknya, meski pemerintahan AS masih dalam kondisi penutupan (shutdown), investor tampak tidak terlalu terpengaruh. Banyak pihak menilai peristiwa ini sudah sering terjadi dan hanya berdampak kecil terhadap pasar jangka panjang. Fokus utama kini bergeser ke musim laporan keuangan kuartal ketiga, yang diharapkan memberikan gambaran arah ekonomi global selanjutnya.

Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun AS sedikit naik ke 4,161%, menandakan investor masih menyeimbangkan ekspektasi antara risiko fiskal dan peluang pertumbuhan.

Dampak Politik Global dan Ekonomi Asia

Dari Asia, indeks Nikkei Jepang melonjak ke rekor tertinggi baru setelah Sanae Takaichi terpilih sebagai ketua Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa. Dukungan Takaichi terhadap kebijakan moneter longgar dan stimulus fiskal diyakini akan memperkuat perekonomian Jepang dalam jangka pendek.

Namun di Eropa, kondisi sebaliknya terjadi. Di Prancis, pengunduran diri Perdana Menteri Sébastien Lecornu setelah kurang dari sebulan menjabat menimbulkan ketidakpastian politik baru, mendorong imbal hasil obligasi naik dan pasar saham melemah.

Aset Aman Kembali Jadi Primadona

Kenaikan serentak di saham, emas, dan kripto menandai fase baru dalam pasar global yang dipenuhi ketidakpastian politik dan ekonomi. Para investor kini tampak kembali ke strategi klasik: mencari aset lindung nilai (safe haven) di tengah risiko fiskal, geopolitik, dan perubahan kebijakan moneter dunia.

Dengan suku bunga global berpotensi turun, utang pemerintah meningkat, serta mata uang utama menghadapi tekanan, tren menuju aset seperti emas dan Bitcoin kemungkinan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Bagi investor ritel, momen ini bisa menjadi sinyal penting untuk melakukan diversifikasi portofolio — bukan hanya untuk mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga untuk melindungi nilai kekayaan di tengah gejolak ekonomi global yang terus berubah.

Sumber : www.cnbcindonesia.com, www.bloombergtechnoz.com

Tagged:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

[mc4wp_form]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *