Home / Persona / Whang-Od Oggay: Perempuan Penjaga Tato Tertua di Dunia yang Menjaga Sejarah di Atas Kulit Manusia

Whang-Od Oggay: Perempuan Penjaga Tato Tertua di Dunia yang Menjaga Sejarah di Atas Kulit Manusia

gemini generated image qa7cczqa7cczqa7c

Di sebuah desa kecil di pegunungan Filipina Utara, seorang perempuan berusia lebih dari satu abad duduk bersila, mengetuk duri jeruk ke kulit manusia. Setiap ketukan adalah doa. Setiap garis adalah sejarah. Namanya Whang-Od Oggay—penato tradisional tertua di dunia dan penjaga terakhir seni batok suku Kalinga.

Awal Kehidupan di Pegunungan Cordillera

Whang-Od Oggay lahir sekitar tahun 1917 di Buscalan, sebuah desa terpencil di Provinsi Kalinga, wilayah pegunungan Cordillera, Filipina Utara. Pada masa itu, Buscalan hampir sepenuhnya terisolasi dari dunia luar. Tidak ada jalan beraspal, listrik, atau akses pendidikan formal seperti sekarang.

Masyarakat Kalinga hidup dari pertanian, berburu, dan adat yang kuat. Setiap aspek kehidupan diatur oleh tradisi—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Dalam konteks inilah Whang-Od tumbuh, dikelilingi oleh cerita leluhur, ritual adat, dan tato tradisional yang menghiasi tubuh para tetua desa.

Ayah Whang-Od adalah seorang mambabatok, seniman tato tradisional Kalinga. Sejak kecil, Whang-Od sering memperhatikan ayahnya bekerja—mengamati ketukan perlahan, tinta dari arang, dan pola-pola geometris yang sarat makna.

Namun pada masa itu, tidak semua anak boleh belajar menato. Ilmu mambabatok dianggap sakral dan hanya diwariskan kepada mereka yang dianggap layak secara spiritual dan mental.

Belajar Menato di Usia Remaja

Pada usia sekitar 15 tahun, Whang-Od mulai diajari langsung oleh ayahnya. Ini merupakan keputusan yang tidak lazim, karena dalam beberapa komunitas, keterampilan menato sering kali hanya diwariskan kepada laki-laki atau anggota tertentu dalam garis keluarga.

Ayah Whang-Od melihat ketekunan, kesabaran, dan ketajaman pengamatan putrinya. Ia percaya Whang-Od memiliki “tangan yang tepat” untuk membawa warisan ini ke masa depan.

Seorang pria tua bertato bersama seorang gadis muda sedang berlatih teknik menato tradisional mambabatok di pegunungan Filipina.
Gambar yang melambangkan transfer ilmu dan dedikasi masyarakat Kalinga dalam menjaga identitas budaya mereka melalui seni tato. Menjaga kesinambungan: Warisan mambabatok diteruskan kepada generasi muda agar tidak punah

Proses belajar tidak singkat. Selama bertahun-tahun, Whang-Od:

  • Menghafal motif dan maknanya
  • Belajar membaca karakter orang yang akan ditato
  • Menguasai teknik mengetuk tanpa melukai berlebihan
  • Memahami etika adat di balik setiap tato

Bagi Whang-Od muda, menato bukan sekadar keterampilan tangan, melainkan tanggung jawab sosial dan spiritual.

Batok: Seni, Identitas, dan Status Sosial

Dalam budaya Kalinga, tato atau batok bukanlah hiasan tubuh. Ia memiliki fungsi sosial yang sangat jelas.

Pada masa muda Whang-Od, tato diberikan kepada:

  • Pejuang laki-laki sebagai tanda keberanian setelah perang antarsuku
  • Perempuan dewasa sebagai simbol kecantikan, kedewasaan, dan kesiapan menikah
  • Anggota komunitas tertentu sebagai penanda status

Whang-Od menato generasi demi generasi masyarakat Kalinga. Setiap tato yang ia buat mengandung cerita—tentang keberanian, kehilangan, atau transisi hidup.

Tidak Menikah, Mengabdikan Hidup untuk Tradisi

Whang-Od tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak kandung. Dalam banyak wawancara, ia mengatakan bahwa menjadi mambabatok adalah hidupnya.

Menurut adat, perempuan yang menikah dengan pria di luar komunitas Kalinga sering kali kehilangan hak atau kesempatan untuk melanjutkan peran adat tertentu. Keputusan Whang-Od untuk tetap melajang memungkinkan dirinya sepenuhnya mengabdikan hidup pada seni batok.

Ia hidup sederhana di rumah kayu Buscalan, menanam padi, merawat kebun, dan menato ketika dibutuhkan. Selama puluhan tahun, kehidupannya nyaris tidak berubah—hingga dunia luar datang.

Masa Hampir Punahnya Tradisi

Pada pertengahan abad ke-20, tradisi tato Kalinga mengalami kemunduran drastis. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

  • Masuknya pengaruh kolonial dan agama
  • Pendidikan modern yang menjauhkan generasi muda dari adat
  • Stigma bahwa tato adalah simbol “primitif”

Banyak mambabatok meninggal tanpa sempat mewariskan ilmunya. Pada akhir abad ke-20, Whang-Od hampir menjadi satu-satunya mambabatok yang tersisa.

Saat itu, tidak ada jaminan bahwa seni batok akan bertahan.

Ditemukan Dunia: Dari Desa Terpencil ke Panggung Global

Nama Whang-Od mulai dikenal luas pada awal tahun 2000-an, ketika antropolog, jurnalis, dan fotografer mulai menulis tentang dirinya. Media internasional menyebutnya sebagai:

  • The world’s oldest tattoo artist
  • Penjaga tato tradisional terakhir Filipina

Whang-Od Oggay duduk di rumah tradisionalnya dengan overlay transparan sampul majalah Vogue dan layar smartphone
Visualisasi yang menggambarkan kontras antara kehidupan sederhana Whang-Od Oggay dengan popularitas globalnya di media sosial dan publikasi internasional, menjadikannya simbol ketahanan budaya di era modern. Dari desa terpencil Buscalan hingga sampul majalah dunia, Whang-Od membuktikan kekuatan tradisi yang abadi.

Wisatawan mulai berdatangan ke Buscalan, mendaki berjam-jam demi mendapatkan tato langsung dari Whang-Od.

Pada 2017, Whang-Od tampil di sampul Vogue Philippines, menjadikannya model sampul tertua dalam sejarah Vogue. Peristiwa ini membawa Whang-Od ke perhatian dunia modern—tanpa mengubah caranya hidup.

Dilema Popularitas dan Etika Budaya

Popularitas membawa tantangan besar. Whang-Od menghadapi dilema antara:

  • Membuka tradisi untuk dunia
  • Menjaga kesakralan dan makna adat

Ia menolak banyak permintaan motif tertentu dan tidak pernah mengubah teknik tradisionalnya. Tidak ada mesin tato, tidak ada modifikasi modern.

Bagi Whang-Od, batok bukan komoditas—melainkan warisan.

Mewariskan Ilmu kepada Generasi Baru

Menyadari usianya yang semakin lanjut, Whang-Od mengambil keputusan penting: mewariskan ilmunya kepada keponakan perempuannya, termasuk Grace Palicas dan Elyang Wigan.

Ia mengajarkan mereka bukan hanya teknik, tetapi juga:

  • Etika budaya
  • Batasan adat
  • Tanggung jawab sebagai penjaga tradisi

Keputusan ini memastikan bahwa seni batok tidak akan mati bersama dirinya.

Filosofi Hidup Whang-Od

Whang-Od jarang berbicara panjang. Namun dari tindakannya, filosofi hidupnya jelas:

  • Tradisi harus dijaga, bukan dipermudah
  • Popularitas tidak boleh mengorbankan makna
  • Perempuan memiliki peran sentral dalam menjaga budaya

Ia percaya bahwa selama ada satu orang yang masih mengingat cara mengetuk duri jeruk ke kulit manusia, sejarah belum berakhir.

Whang-Od Oggay, mambabatok tertua di dunia sedang menato tradisional (batok) pada kulit seorang wanita dengan latar belakang terasering sawah.
Whang-Od Oggay menggunakan duri jeruk dan tinta arang untuk mengabadikan sejarah Kalinga di atas kulit manusia. Ilustrasi artistik Whang-Od Oggay saat melakukan proses menato tradisional “batok”. Gambar ini menonjolkan hubungan antara manusia, tradisi, dan alam (pohon hayat dan terasering sawah) di pegunungan Cordillera.

Warisan Abadi di Atas Kulit Manusia

Kini, Whang-Od Oggay bukan hanya simbol tato tradisional Filipina, tetapi ikon budaya dunia. Tubuh-tubuh yang ia tato tersebar di berbagai negara—menjadi museum berjalan dari sebuah tradisi kuno.

Ketika Whang-Od mengetuk terakhir kalinya, dunia tidak akan kehilangan tato.
Namun ia akan kehilangan penjaga waktu.

Perempuan yang Mengalahkan Waktu

Di Buscalan, pagi selalu datang dengan cara yang sama. Kabut turun perlahan dari pegunungan Cordillera, menyelimuti teras-teras padi yang bertingkat seperti tangga menuju langit. Ayam berkokok, kayu rumah berderit pelan, dan suara langkah kaki terdengar di jalan tanah yang sempit. Di salah satu rumah kayu sederhana, seorang perempuan tua duduk bersila di lantai.

Usianya telah melewati satu abad.

Namanya Whang-Od Oggay.

Tubuhnya kecil dan rapuh, kulitnya berkerut oleh waktu, dan matanya menyimpan ketenangan yang tidak tergesa-gesa. Tangannya gemetar—getaran halus yang tidak pernah benar-benar berhenti. Namun ketika duri jeruk menyentuh kulit seseorang, getaran itu seolah menemukan ritmenya sendiri. Ketukan demi ketukan terdengar lembut, nyaris seperti denyut jantung.

Di momen itulah, waktu kehilangan kekuasaannya.

Whang-Od tidak pernah berusaha melawan usia. Ia tidak menolak tua, tidak mencoba terlihat muda, dan tidak menyebut dirinya istimewa. Baginya, umur hanyalah konsekuensi dari hidup yang dijalani sepenuhnya di satu tempat, dalam satu tradisi, dengan satu tujuan yang sama sejak remaja.

Ia tidak menulis buku.
Ia tidak mendirikan museum.
Ia tidak meninggalkan catatan tertulis.

Namun Whang-Od menulis sejarah—
perlahan,
berulang,
dan permanen—
di atas kulit manusia.

Ketika Tradisi Menjadi Tubuh

Di dunia modern, warisan budaya sering disimpan di rak kaca, dipamerkan di galeri, atau diawetkan dalam arsip digital. Namun warisan yang dijaga Whang-Od tidak bisa dibekukan.

Ia bernapas.
Ia menua.
Ia berdarah.

Setiap tato yang ia buat hidup bersama pemiliknya—ikut bekerja, berjalan, mencintai, sakit, dan suatu hari mati. Tidak ada jaminan keabadian selain ingatan.

Dalam hal ini, Whang-Od memahami sesuatu yang jarang disadari dunia modern: bahwa budaya sejati tidak mencari keabadian. Ia mencari kesinambungan.

Dan kesinambungan itu hanya mungkin jika ada manusia yang bersedia menjadi wadahnya.

Sunyi yang Panjang dan Kesetiaan Tanpa Saksi

Ada puluhan tahun dalam hidup Whang-Od ketika hampir tidak ada yang datang untuk ditato. Tidak ada kamera. Tidak ada wisatawan. Tidak ada media. Hanya hari-hari biasa di desa kecil yang jauh dari peta dunia.

Ia tetap menato.

Bukan karena ada penonton.
Bukan karena ada penghargaan.
Tetapi karena itulah yang ia tahu harus dilakukan.

Di masa-masa itulah kesetiaan Whang-Od diuji. Ketika tradisi tidak memberi pengakuan, tidak memberi penghasilan, dan bahkan dianggap beban oleh generasi muda. Banyak orang menyerah di titik itu.

Whang-Od tidak.

Ia memilih tetap duduk di tempat yang sama, melakukan hal yang sama, dengan keyakinan bahwa jika tradisi memang layak hidup, suatu hari ia akan menemukan jalannya sendiri.

Dan dunia akhirnya datang.

Ketika Dunia Menyadari, Whang-Od Tidak Berubah

Saat wisatawan mulai berdatangan, saat namanya muncul di majalah internasional, saat Vogue menjadikannya simbol budaya, Whang-Od tidak mengubah ritmenya.

Ia tetap bangun pagi.
Tetap duduk di lantai.
Tetap menato dengan duri dan palu kayu.

Ia tidak mempercepat proses untuk memenuhi permintaan. Ia tidak memperbanyak motif agar terlihat menarik. Ia tidak menjual cerita sedih tentang kepunahan tradisi.

Baginya, dunia boleh kagum—tetapi tradisi tidak boleh bernegosiasi.

Dalam diamnya, Whang-Od mengajarkan pelajaran penting: bahwa menjaga budaya tidak selalu berarti beradaptasi dengan pasar. Kadang, menjaga budaya berarti menolak berubah terlalu jauh.

Perempuan, Tubuh, dan Otoritas Budaya

Di banyak tempat, perempuan adat sering ditempatkan sebagai penjaga rumah, bukan penjaga sejarah. Namun Whang-Od membalik narasi itu tanpa pidato atau perlawanan terbuka.

Ia melakukannya dengan bertahan.

Dengan tidak menikah demi mempertahankan perannya.
Dengan mengajar keponakan perempuannya, bukan murid sembarang.
Dengan menunjukkan bahwa kesabaran, ketelitian, dan keteguhan perempuan adalah fondasi tradisi jangka panjang.

Dalam tubuhnya, seni, gender, dan kekuasaan budaya bertemu tanpa konflik. Ia tidak perlu menyebut dirinya feminis untuk membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi pilar peradaban.

Ia adalah bukti hidupnya.

Whang-Od Oggay, penato tradisional tertua dari suku Kalinga Filipina, duduk di teras kayu dengan latar belakang pegunungan Cordillera.
Foto close-up Whang-Od Oggay menunjukkan detail tato tradisional di seluruh tubuhnya dan alat tato bambu sederhana yang ia gunakan untuk melestarikan seni batok. Whang-Od Oggay, simbol keteguhan tradisi yang melampaui usia satu abad.

Warisan yang Tidak Bergantung pada Satu Nama

Mungkin pelajaran terpenting dari Whang-Od bukanlah tentang tato, melainkan tentang melepaskan ego.

Ia tahu bahwa dirinya suatu hari akan pergi.
Ia tahu bahwa namanya bisa dilupakan.

Karena itu, ia memilih mengajar.

Dengan menurunkan ilmu batok kepada generasi berikutnya, Whang-Od memastikan bahwa tradisi tidak berhenti pada dirinya. Ia memecah pusat kekuasaan budaya agar tidak bergantung pada satu sosok.

Ia tidak ingin dikenang sebagai “yang terakhir”.
Ia ingin dikenang sebagai “penghubung”.

Ketika Ketukan Terakhir Datang

Suatu hari nanti, Buscalan akan kembali sunyi. Tidak ada lagi tangan tua yang mengetuk duri ke kulit dengan ritme yang sama seperti satu abad terakhir.

Namun ketika hari itu tiba, batok tidak akan ikut mati.

Ia akan hidup:

  • di lengan seseorang yang bekerja di kota
  • di punggung seorang pendaki
  • di cerita yang diceritakan ulang kepada anak-anak

Dan di setiap garis tinta hitam itu, ada jejak seorang perempuan tua yang memilih bertahan ketika dunia berubah terlalu cepat.

Sejarah yang Tidak Pernah Selesai

Whang-Od tidak pernah mengklaim dirinya penyelamat budaya. Ia hanya melakukan apa yang ia anggap benar—hari demi hari, tanpa janji akan dikenang.

Namun justru di sanalah letak kebesarannya.

Ia mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang paling keras bersuara, melainkan oleh mereka yang paling lama bertahan.

Dan di Buscalan, di antara pegunungan dan kabut pagi, seorang perempuan telah membuktikan bahwa waktu bisa dilewati—bukan dengan melawannya, tetapi dengan hidup selaras dengannya.

Tagged:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

[mc4wp_form]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *